Akhir Januari 2010, saya sedang di Surabaya. Tempat saya menginap tidak jauh dari Taman Bungkul yang terletak di Jalan Darmo Surabaya. Waktu lari-lari pagi saya mampir ke ini. Pagi itu, saya lihat banyak juga warga Surabaya yang memanfaatkan Taman Bungkul untuk tempat berolah raga. Di taman ini ada tempat bermain anak-anak dan juga ada tempat bermain skate board. Selain itu taman ini juga dilengkapi fasilitas air yang dapat langsung diminum. Tentu saja gratis (sebuah fasilitas yang saya kira perlu ditiru oleh DKI Jakarta).
Saat lari-lari keliling taman, tampak beberapa buah bis parkir di belakang taman. Saya mengira mereka juga orang-orang yang akan berolah raga pagi. Tetapi setelah melihat pakaian mereka, ternyata perkiraan saya keliru. Yang perempuan berbaju panjang berkerudung, yang laki-laki memakai teluk belanga. Jadi pasti mereka tidak datang untuk berolah raga. Karena ingin tahu, saya mengikuti mereka. Langkah saya terhenti di pintu gerbang yang bertulisan “Makam Ki Ageng Bungkul”.
Saya sudah beberapa kali ke Taman Bungkul. Tetapi saya baru tahu, ternyata di tengah taman ini ada sebuah makam. Sebenarnya saya ingin ikut masuk untuk mengetahui bagian dalam makam. Tetapi karena hanya memakai celana pendek dan kaos yang basah keringat, saya merasa kurang enak berada di antara para peziarah yang berpakaian rapi.
Di malam hari, suasana Taman Bungkul mengingatkan saya dengan Lapangan Blok S di Jakarta Selatan, karena banyak orang datang ke tempat ini untuk nongkrong dan menikmati makanan. Malam sebelumnya, saya bersama seorang teman menikmati nasi rawon di Taman ini. Waktu itu sudah sekitar jam sebelas malam, tetapi tempat makan dan sekitar taman masih penuh pengunjung. Suana taman ini sama sekali tidak tampak seperti makam, apalagi kesan angker ataupun seram. Kata teman saya, di taman ini ada WiFi yang disediakan PT Telkom dan tiap malam minggu ada live music. Ternyata di Taman Bungkul Surabaya, yang telah beristirahat dengan tenang dan yang masih suka gaul dapat berdampingan dengan damai.
Categories: kuliner · lingkungan hidup
January 20, 2010 · 1 Comment
“Anak-Anak Indonesia Butuh Bantuan Anda Hari Ini”. Kali
mat ini tertulis di bagian punggung pakaian perempuan-perempuan muda di tepi jalan di depan Plasa Blok M, Sabtu, 16 Januari 2010. Pada pakaian mereka juga tertulis “UNICEF”. Seorang dari mereka menghampiri saya, memperkenalkan namanya, kemudian menjelaskan beberapa masalah yang dihadapi anak-anak Indonesia.
Banyak anak-anak Indonesia yang meninggal dunia karena tidak memperoleh vaksinasi. Banyak anak-anak Indonesia yang tidak dapat menikmati pendidikan. Demikian antara lain dia menjelaskan sambil menunjukkan foto-foto pada semacam brosur. Dia juga menyebutkan bahwa diperlukan biaya sekian milyar rupiah untuk mengatasi masalah ini.
“Kami tidak menerima donasi berupa uang tunai. Uang tunai nanti bisa menyimpang ke kiri atau ke kanan. Untuk ikut membantu mereka, Bapak dapat memberikan donasi yang didebet setiap bulan dari kartu kredit MasterCard dan Visa.” katanya. Saya terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa saya tidak punya kartu kredit MasterCard dan Visa. Bukan saya tidak mau ikut membantu anak-anak Indonesia, saya tidak cukup percaya diri untuk memberikan nomor kartu kredit.
Keep reading →
Categories: Uncategorized
Sewaktu Petronas mulai membuka pompa bensin di Jakarta, saya mempertanyaka
n pada seorang teman “Mengapa kita tidak pernah ketemu pompa bensin Pertamina di KL (Kuala Lumpur)?”. Teman yang saya tanya cuma angkat bahu, tidak menjawab.
Waktu itu sekitar tahun 2006. Pemerintah melakukan deregulasi industri hilir BBM. Banyak pompa bensin baru, baik dari Pertamina maupun Shell dan Petronas. Memang ada manfaat dengan hadirnya saingan maka pompa bensin Pertamina nampak berbenah. Tetapi, terus terang saya iri dengan Petronas yang konon usianya lebih muda dari Pertamina, tetapi telah berekspansi sampai ke “kavling rumah” Pertamina. Sementara Pertamina, waktu itu hanya pemain domestik.
Baru hari ini ada berita bahwa, Pertamina akan mengembangkan SPBU di Malaysia tahun ini. Selain di Malaysia Pertamina juga akan mengakuisisi pompa bensin di Austalia, kata Direktur Pemasaran dan Niaga, Pertamina, Hanung Budaya. [1]
Jumlah pompa bensin di luar negeri yang rencananya akan dibangun Pertamina memang tidak banyak. Mungkin dua buah. Bandingkan dengan Petronas yang berencana membanguan lebih dari 400 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia sampai tahun 2011.
[2]
Baca juga:
- Pertamina Bangun SPBU di Australia dan Malaysia
- Petronas Bangun 400 Pompa Bensin di Indonesia Hingga 2011
Categories: energi · investasi