Banyak orang yang memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Lalu siapa yang menang? Di posting “Hari Kemenangan Siapa?“, saya menuliskan pendapat Naya Tirambintang, Analis Equity Research Danareksa yang mengatakan bahwa Lebaran adalah hari kemenangan Peritel. Menurut riset, umumnya menjelang Lebaran keuntungan pedagang eceran meningkat secara signifikan hingga 3-6 kali lipat dari biasanya.
Ternyata tidak hanya saya saja yang mempertanyakan anggapan Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Berikut adalah beberapa di antaranya:
- Hari Kemenangan??? Oleh Komikir
- Hari Kemenangan Itu Akhirnya (Tidak) Datang Oleh Iko Rasaki
- Idul Fitri Hari Kemenangan Siapa? Oleh Lutvi Avandi
Tulisan-tulisan di atas secara serius mempertanyakan anggapan Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Anda dapat membacanya di blog masing-masing penulisnya. Sedangkan saya saat ini tidak sedang dalam mode untuk membuat tulisan yang serius, karena saya tidak merasa dalam kondisi kemenangan, tetapi justru pada kondisi kekenyangan
Terlepas dari apakah kita bisa menyebutnya Hari Kemenangan, bagi saya hari Idul Fitri 1432 H ini adalah Hari Kekenyangan. Selama Ramadhan saya hanya makan dua kali (waktu berbuka dan sahur). Pada hari Idul Fitri 1432 H saya (terpaksa) sarapan pagi dua kali dan hampir (terpaksa) makan siang dua kali. 
Usai salat Idul Fitri, saya dan beberapa teman ketemu teman-teman yang jadi panitia penyenggara salat Idul Fitri. Setelah bersalam-salaman. kami diajak ke ruang sekretariat Mesjid. Di sana sudah ada Ustadz yang tadi jadi Khatib salat Idul Fitri. Di luar dugaan kami diajak untuk sarapan pagi. “Sekalian menemani Ustadz”. kata teman kami itu.
Setiba di tempat kost dan bersalam- salaman dengan keluarga Ibu Kost, saya disuguhi sarapan lagi. Tentu saja saya tidak mungkin menolak.
Kebiasaan warga di komplek saya adalah Halal Bil Halal pada pagi hari Idul Fitri di gedung pertemuan warga. Jadi usai sarapan saya juga bergabung dengan warga yang lain untuk Halal Bil Halal. Diantara berbagai hidangan, saya hanya berani mengambil sepotong kue dan segelas air mineral. 
Usai acara Halal Bil Halal, saya silaturahmi ke rumah Pak De (Kakak dari ayah saya). Hal ini selalu saya lakukan setiap Idul Fitri. Seperti lazimnya acara lebaran, di sana juga banyak makanan. Sebelum pulang saya makan siang.
Waktu kembali ke tempat kost, saya lihat banyak tamu. Di antaranya adalah keluarga Ibu Kost yang saya kenal. Setelah bersalaman dengan mereka, saya hampir terpaksa harus makan siang untuk ke dua kalinya. Untunglah saya berhasil menyelinap
Kepada Anda yang merayakan Idul Fitri, saya ucapkan Selamat Idul Fitri. Semoga Allah menerima ibadah kita dan mengijinkan kita menjumpai Ramadhan yang akan datang. Semoga Anda termasuk orang yang menang. Mohon maaf lahir dan batin