Skip to content

Lapar Mengajarmu Rendah Hati Selalu…?

June 18, 2017

Judul posting ini memang sepenggal syair dalam lagu Bimbo karya Taufiq Ismail yang berjudul “Anak Bertanya Pada Bapaknya”. Apakah lapar yang kita rasakan sewaktu menunaikan ibadah puasa telah menuntun kita menuju rendah hati?
Seseorang yang lapar dalam jangka waktu lama, kadar glukosa/gula darah di dalam tubuhnya sangat terganggu. Padahal otak sangat bergantung pada glukosa agar bisa melakukan tugasnya dengan optimal.  Saat Anda merasa lapar dan kadar gula darah Anda menurun tajam, Anda mungkin akan mengalami kesulitan berkonsentrasi. Hal ini menyebabkan tugas yang mudah menjadi sulit untuk dikerjakan. Bahkan berpotensi menyebabkan Anda membuat sejumlah keteledoran. Otak yang kekurangan glukosa juga akan kesulitan untuk mengontrol gejala amarah. Gula darah rendah juga dapat disertai dengan kecemasan, kelelahan dan sakit kepala.

Larangan makan dan minum di siang hari selama Ramadhan adalah ujian dahsyat, bukan hanya laparnya, tetapi juga karena makin lemahnya kemampuan kita mengendalikan emosi dan mengelola pikiran kita. Kita dituntut untuk bisa mengendalikan emosi/nafsu amarah, justru  pada waktu sarana pengendalian yang kita miliki berada pada tingkat yang sangat rendah.

Jadi, sepertinya puasa yang diwajibkan bagi umat Muslim (dan umat-umat terdahulu), salah satunya adalah untuk memaksa kita menyadari kelemahan kita. Hanya karena jadwal makan tertunda, kita sudah kesulitan mengelola pikiran, emosi dan hidup kita. Bagaimana sulitnya mereka yang makannya bukan hanya tertunda, tetapi selalu berkekurangan?
Semoga lapar ini mendorong kita berempati pada mereka yang menderita lapar sepanjang waktu, karena memang tidak sanggup memperoleh makanan yang cukup.
Kembali kepada pertanyaan di awal, apakah lapar yang kita rasakan sewaktu menunaikan ibadah puasa telah menuntun kita menuju rendah hati? Menurut saya, jawabannya adalah “Ya”. Tinggal tergantung apakah yang dituntun mau menjadi rendah hati.

​Soto Banjar dengan Perkedel Singkong

January 14, 2017

Saya yakin, banyak di antara Anda yang pernah menikmati Soto Banjar, kuliner dari Kalimantan Selatan. Meskipun merupakan kuliner khas Kalimantan Selatan, di Jakarta juga ada beberapa rumah makan yang menyajikan Soto Banjar. Saya termasuk yang menggemari hidangan ini. 

Untuk Anda yang belum pernah menikmati Soto Banjar, saya berikan sedikit ilustrasi. Dalam semangkuk atau sepiring (kadang juga ada yang menyajikannya di atas piring) Soto Banjar, Anda dapat menemukan daging ayam, soun, telur rebus, dan perkedel dalam kuah yang bening. Soto Banjar hampir selalu disajikan bersama ketupat atau lontong. Konon Soto Banjar yang asli memakai telur bebek, bukan telur ayam. Perkedelnya juga dari singkong, bukan dari kentang.

Perkedel singkong di Soto Banjar berbeda dengan perkedel singkong untuk Tahu Campur (kuliner khas Lamongan, Jawa Timur). Meskipun saya juga suka Tahu Campur (saya lama tinggal di Surabaya), saya tidak suka dengan perkedel singkong yang di Tahu Campur. Saya tidak tahu apakah bahan, bumbu ataupun cara pembuatannya yang menyebabkann ke dua macam perkedel singkong ini berbeda rasanya dan juga warnanya. Perkedel singkong Soto Banjar berwarna putih dan rasanya gurih. Sedangkan perkedel singkong Tahu Campur warnanya kuning dan buat saya rasanya aneh. Maaf ini hanya soal selera, jadi sangat subjektif.

Setiap memesan Tahu Campur, saya selalu minta agar tidak usah diberi perkedel singkong. Sebaliknya, saya ingin sekali menikmati Soto Banjar yang disajikan dengan perkedel singkong, seperti yang sering saya nikmati pada waktu saya masih tinggal di Banjarmasin. 

Sayang sekali, di beberapa tempat yang menyediakan Soto Banjar, saya hampir tidak pernah lagi menemukan Soto Banjar yang disajikan dengan perkedel singkong. Bukan hanya di Jakarta, sewaktu saya  ke Banjarmasin bulan Oktober dan bulan Desember 2016 lalu, saya juga tidak berhasil menemukan Soto Banjar yang disajikan dengan perkedel singkong. Beberapa warung dan rumah makan menyajikan Soto Banjar dengan perkedel kentang, atau bahkan tanpa perkedel sama sekali.

Seorang teman dari Banjarmasin yang juga hobby memasak mengatakan, pada masa yang lalu kentang memang tidak banyak dijual di Kalimantan Selatan. Sedangkan singkong (dalam bahasa Banjar disebut gumbili) tersedia banyak sekali. Sekarang, dengan semakin mudahnya transportasi, kentang jadi mudah diperoleh di Kalimantan Selatan.  Soto Banjar yang dulu selalu memakai perkedel singkong, kemudian ada alternatif memakai perkedel kentang.

Tadi saya mengatakan Soto Banjar yang asli memakai telur bebek. Sepertinya kondisi lahan Kalimantan Selatan yang banyak rawa, memang sesuai untuk peternakan bebek. Sehingga dahulu telur bebek lebih banyak dijual di pasar. Dengan makin banyak pasokan telur ayam, mungkin, sekarang Soto Banjar lebih banyak yang memakai telur ayam dari pada telur bebek. Saya kurang bisa membedakan rasa telur ayam dengan telur bebek. Jadi bagi saya Soto Banjar yang memakai telur ayam tidak banyak berbeda dengan Soto Banjar yang memakai telur bebek. 

Saya berharap, suatu hari dapat menikmati Soto Banjar yang asli, yang memakai telur bebek, dan perkedel singkong.

Gambar diambil dari wikipedia

Biaya Top Up TransJakarta Untuk Donasi Lansia?

January 8, 2017

Sabtu, 7 Januari 2016, sekitar jam 12:30, saya akan naik Bus TransJakarta di Halte Imigrasi, Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Karena saldo kartu Flazz BCA saya tidak cukup, maka saya ke loket kasir TransJakarta untuk mengisi saldo (top up). Kasir TransJakarta mengatakan, sekarang setiap kali top up dikenakan biaya Rp 2000., sambil menunjuk ke pengumuman yang ditempel di depan loket (lihat gambar di bawah). Kasir TransJakarta juga mengatakan, nanti biaya Rp 2000. itu akan didonasikan untuk para Lansia.

070120175127_1
Saya menanyakan donasi itu untuk para Lansia mana? (Maksud saya, lansia di panti jompo apa? Atau lansia yang diasuh oleh yayasan apa?). Kasir TransJakarta tidak bisa menjawab pertanyaan saya.
Saya juga mengatakan bahwa di pengumuman ini, tidak ada keterangan bahwa biaya Rp 2000. itu akan didonasikan untuk para Lansia. Kasir TransJakarta menjawab, sesuai arahan perusahaan (PT Transportasi Jakarta), kalau ada penumpang TransJakarta yang bertanya, dia harus menjelaskan bahwa biaya Rp 2000. itu akan didonasikan untuk para Lansia. Sepertinya, manajemen TransJakarta kurang lengkap dalam memberikan penjelasan kepada kasirnya mengenai kegiatan donasi untuk lansia ini.
Karena soal donasi yang tidak jelas ini, saya mau mengatakan, tidak jadi melakukan top up di kasir TransJakarta. Tidak jauh dari halte ini ada ATM BCA. Dari pada terlibat dan mendukung kegiatan pengumpulan dana yang tidak jelas arahnya, lebih baik saya sedikit mengorbankan waktu dan energi dengan berjalan kaki ke ATM BCA itu untuk melakukan top up.
Melihat saya tampak enggan dikenakan biaya top up Rp 2000., kasir TransJakarta lalu menanyakan apakah saya punya kartu debit? Kata dia, top up dengan kartu debit tidak dikenakan biaya. Saya segera mengeluarkan kartu debit BCA saya. Kasir TransJakarta kemudian mengisikan saldo di kartu Flazz BCA saya.
Dengan menulis posting ini, saya tidak sedang mempengaruhi Anda untuk tidak peduli kepada Lansia. Saya tidak sedang mempengaruhi Anda untuk tidak mendukung suatu usaha dan niat baik TransJakarta, atau perusahaan / lembaga lain, atau siapapun. Saya hanya ingin mengatakan, saya tidak mau terlibat dan mendukung kegiatan pengumpulan dana yang tidak jelas dan tidak transparan. Seharusnya, di samping penjelasan dan arahan yang lengkap kepada kasir dan staf front liner, TransJakarta juga wajib mengumumkan kegiatan penggalangan dana donasi untuk lansia ini kepada pengguna layanan TransJakarta. Andai kegiatan ini dikomunikasikan dengan baik dan dijamin bahwa akan dilaksanakan secara bertanggung jawab, saya yakin banyak yang akan mendukung.

Bagaimana menurut pendapat Anda?

Tap Out Mengorbankan Kenyamanan Penumpang TransJakarta

September 27, 2016

Sajak September 2016, TransJakarta mewajibkan pepengumuman-ta-outnumpang untuk Tap Out (menempelkan kartu sebelum keluar halte Busway). Penumpang akan terhalang untuk keluar halte apabila tidak menempelkan kartu. Saya pernah menanyakan untuk apa aturan ini dibuat? Petugas Busway mengatakan, tidak usah khawatir, saldo di kartu tidak akan dipotong.. Lha iya lah… keluar halte koq dipotong? Kalau sampai TransJakarta memotong saldo swaktu Tap Out, itu namany
a “nyolong”. Kata dia tujuan aturan ini adalah untuk mendata penumpang, naik darimana, dan turun di mana.

Mendata penumpang? Kelihatannya
tujuan ini bagus, tetapi proses mengambil data ini dllakukan TransJakarta dengan mengorbankan kenyamanan penumpang. Seperti kita ketahui bersama, di halte Busway biasanya hanya ada satu lajur keluar. Akibatnya, aturan ini menimbulkan kemacetan dan antrian panjang penumpang, apalagi pada jam-jam sibuk. Ketidaknyamanan makin terasa di halte busway yang sempit. Anda pasti tahu, halte halte busway yang sempit lebih banyak dari pada yang luas.antrian-tap-out

Seharusnya TransJakarta bisa lebih “smart” dalam mengambil data tanpa mengorbankan kenyamanan penumpang. Bukankah selama ini, setiap penumpang yang keluar halte harus mendorong dan melewati batang/bar lajur keluar? Seharusnya jumlah kumulatif penumpang yang keluar halte sudah dapat didata oleh Counter yang dipasang di lajur keluar itu, tanpa perlu Tap Out yang menimbulkan kemacetan dan antrian panjang yang mengganggu kenyamanan penumpang. Tentu saja, cara ini hanya menghasilkan data agregat, bukan data individu per penumpang.

Sepertinya, dengan mewajibkan Tap Out, TransJakarta ingin mendata penumpang secara sangat teliti sampai per individu penumpang. TransJakarta ingin tahu, Anda naik dari halte mana, pada jam berapa, keluar di halte mana, pada jam berapa. Dari data itu, TransJakarta dapat mengetahui berapa waktu tempuh perjalanan Anda, berapa kali transit, rute dan koridor mana yang Anda lewati. seberapa sering Anda naik TransJakarta, dan lain-lain.

Saya tidak tahu, apakah data yang teliti per individu penumpang begitu penting bagi TransJakarta, sehingga harus dilakukan dengan Tap Out yang mengorbankan kenyamanan penumpang. Kalau pihak manajemen TransJakarta memang perlu data yang teliti, sebenarnya Tap Out dapat dilakukan secara sampling pada hari dan waktu tertentu saja, secara periodik ataupun random, bukan terus menerus setiap hari. Seharusnya pihak TransJakarta memahami bahwa teknik-teknik sampling statitik sudah cukup canggih untuk mendapatkan data yang cukup teliti dengan upaya yang minimal.

Teknik sampling bahkan sudah dipraktekan oleh ibu dan nenek kita sejak jaman dulu. Lihat saja, sewaktu memasak beliau sudah sangat faham bahwa untuk memastikan komposisi bumbu, bahan dan tingkat kematangan masakan, beliau cukup mencicipi sekitar satu sendok kecil, tidak perlu dengan menyantap sebanyak satu piring. Hal ini beliau lakukan meskipun mungkin beliau tidak pernah belajar statistik dan teknik sampling. Contoh sampling yang mungkin sangat familoar dengan kita adalah Quick Count. Hasil Quick Count yang sering kali sangat akurat itu dilakukan dengan sampling atas sebagian kecil pemilih, bukan dengan mendata seluruh pemilih.

Jadi saharusnya TransJakarta cukup memberlakukan Tap Out secara sampling saja. Dengan demikian, gangguan terhadap kenyamanan penumpang dapat diminimalkan. Bagaimana menurut Anda?

Pindah ke Lain Ojek Online

July 8, 2016

Sejak Januari 2016 saya menjadi sering menggunakan ojek online. Sampai hampir 6 bulan saya hanya memakai Grab bike, dan merasa sudah cukup dengan Grab bike saja. Dengan satu aplikasi Grab bike, kita sudah dapat menggunakannya untuk Grab bike, Grab Taxi dan Grab Car. Sejauh ini, yang saya perlukan hanya ojek/ Grab bike untuk menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak/belum memerlukan Grab Taxi dan Grab Car.

image

Kemudian pada April 2016 yang lalu, saya ada pekerjaan di Semarang. Ternyata di Semarang sudah ada GoJek, tetapi belum ada Grab bike. Meskipun demikian saya masih belum tertarik memakai GoJek, karena lalu lintas di Semarang tidak macet seperti Jakarta, sehingga saya tidak perlu memakai ojek. Selain itu, saya di Semarang tidak terlalu lama.
Setelah beberapa lama memakai Grab bike, saya beberapa kali mengalami kesulitan mendapatkan pengemudi. Seingat saya, ada lebih dari tiga kali saya tidak berhasil mendapatkan pengemudi Grab bike, sehingga saya terpaksa menggunakan moda transportasi lain.
image
Di samping itu ada lebih dari 6 kali pengemudi Grab bike yang mengambil order saya ternyata tidak menyediakan head cover, padahal sewaktu memesan, saya hampir selalu menuliskan note agar pengemudi Grab bike menyediakan head / hair cover. Buat saya, head /hair cover adalah perlengkapan penting. Bayangkan saja, helm itu bukan helm milik kita, berapa kepala yang sudah bergantian memakai helm yang disediakan ojek? . Itu sama saja dengan memakai baju/pakaian yang sudah dipakai oleh orang lain. Saya tidak mau memakai helm itu tanpa head/hair cover
Saya sudah beberapa kali menuliskan masalah tidak tersedianya head/hair cover ini pada waktu memberikan feed back dan rating, tetapi saya masih sering mengalami tidak tersedianya head/hair cover. Hal hal itu mendorong saya mendownload aplikasi Gojek.
Beberapa perbedaan yang saya amati antara aplikasi Grab Bike dengan GoJek adalah :
1) Setelah kita mengisikan lokasi berangkat dan lokasi tujuan, pada peta di layar aplikasi GoJek akan tampak lintasan jalan yang akan dilewati. Pada aplikasi Grab Bike lintasan jalan ini tidak tampak.
2) Pada aplikasi Grab Bike akan tampak posisi posisi pengemudi Grab Bike disekitar lokasi berangkat. Aplikasi GoJek tidak menampakkan posisi posisi pengemudi GoJek.
3) Apabila ada pengemudi yang mengambil order kita, di aplikasi Grab Bike akan tampak nama, foto pengemudi, nomor ponsel dan nomor polisi pengemudi yang mengambil order kita. Kemudian, peta di aplikasi Grab Bike akan menampakkan posisi pengemudi yang akan mengantar kita.

4) Pada aplikasi GoJek, hanya akan muncul nama pengemudi dan perkiraan waktu, tetapi di peta tidak tampak posisi pengemudi yang mengambil order kita.
Saya baru sekitar tiga kali memakai GoJek. Tetapi yang saya suka, ke tiga pengemudi GoJek yang mengambil order saya semua menyediakan head/hair cover. Saya menduga, Gojek memang menganggap penting Hair Cover dan Masker untuk penggunanya. Gojek telah membuat sistem untuk memastikan pengemudi GoJek menyediakan Head/Hair Cover dan Masker untuk pengguna /penumpang. Hal ini tampak pada bagian Rating dan Comment, aplikasi GoJek sudah menyiapkan form feed back “Driver did not provide face mask and hair cover “. Kalau pengemudi GoJek tidak menyediakan Hair Cover dan Masker, pengguna dapat langsung mencentangnya dan mengirimkan feed back itu .
Di aplikasi Grab Bike, feedback mengenai tidak tersedianya Hair Cover dan Masker ini harus kita tulis sendiri.

image

Dua Kali Berutang Budi

June 8, 2016

Hari ini dan sejak masuk bulan Ramadhan Jemaah salat Maghrib di Masjid kantor saya jauh lebih banyak dari pada biasanya. Selama bulan Ramadhan Masjid ini biasanya menyediakan hidangan buka puasa. Penganan kecil sebelum salat Maghrib, dan makanan (nasi, sayur dan lauk ) setelah salat Maghrib.
Seusai salat, saya antri bersama jemaah lain untuk mendapatkan nasi kotak. Ketika sampai giliran saya, saya dengar suara : “Nasi kotak habis”. Mendengar hal itu, saya sedang akan berbalik meninggalkan tempat pengambilan nasi kotak, tiba tiba seseorang menyodorkan sebuah nasi kotak kepada saya. Sejenak saya ragu, tetapi akhirnya saya terima juga, dan mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Saya pikir, mungkin orang yang memberikan nasi kotak itu adalah petugas mesjid yang memang membagi bagikan nasi kotak buka puasa.
Nasi kotak itu saya nikmati sambil duduk bersama jemaah lain. Saat makan, saya teringat pada orang yang memberikan nasi kotak tadi. Apa betul, dia petugas yang membagi bagikan nasi kotak? Bukankah tadi dikatakan bahwa nasi kotak sudah habis ? Bagaimana kalau dia adalah salah seorang jemaah yang merelakan jatah makannya? Tiba tiba saya merasa berutang budi, bahkan merasa bersalah, telah mengambil nasi kotak itu. Jangan jangan dia sendiri tidak makan, karena saya. Tetapi, saya kembali menghibur diri dengan mencoba menganggap bahwa orang itu adalah petugas mesjid yang memang membagi bagikan nasi kotak buka puasa.
Selesai makan, saya kembali ke ruang kerja saya. Setelah mematikan komputer, saya bersiap pulang. Namun sewaktu akan masuk lift, saya tersadar bahwa ponsel saya belum saya bawa. Saya kembali ke ruang kerja, tetapi tidak menemukan ponsel itu. Kemudian saya ingat, tadi sore saya membawa ponsel itu ke kamar kecil. Saya segera ke kamar kecil, tetapi saya tidak menemukan ponsel itu. Saya keluar dari kamar kecil, dan mulai putus asa, sepertinya ponsel itu harus saya relakan untuk hilang …
Tiba tiba seorang Satpam menegur saya. Saya katakan, bahwa saya mencari ponsel saya. Satpam itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari mejanya, dan mengatakan “Yang ini, ya Pak?”. Dia memperlihatkan sebuah benda yang sangat saya kenal : ponsel saya. Saya sungguh lega dan gembira. Ternyata ponsel saya tidak hilang. Saya mengucapkan terima kasih kepada Satpam yang telah mengamankan ponsel saya.
Dalam sehari ini, saya telah dua kali berutang budi. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka. Amin!

Kasir kasir Jutek TransJakarta

May 7, 2016

Saya menjumpai banyak petugas TransJakarta yang sopan, ramah dan informatif. Yang paling saya ingat adalah sewaktu saya terpaksa keluar dari Halte Busway Imigrasi Mampang Jakarta Selatan, karena tidak berhasil masuk bus setelah menunggu lama. Waktu itu seorang petugas kebersihan Halte TransJakarta memberi tahu saya bahwa hari itu bus memang sangat padat , karena ada sejumlah Bus TransJakarta yang dihentikan operasi nya, karena sudah tidak layak jalan (dipicu oleh kejadian terbakarnya sebuah Bus TransJakarta sehari sebelumnya). Yang sangat mengesankan, petugas kebersihan ini mengatakannya sambil meminta maaf. Andai saja semua karyawan dan karyawati TransJakarta seperti ini. Saya sampai menyempatkan untuk memotret petugas ini.(lihat gambar di bawah)
Namun tidak semua petugas TransJakarta sopan, ramah dan informatif. Kasir TransJakarta rata rata tidak ramah alias jutek. Sewaktu TransJakarta masih pakai karcis, membeli tiket di loket TransJakarta adalah bagian yang paling tidak saya sukai, disamping kegiatan menunggu kedatangan Bus. Di seragam para kasir TransJakarta memang ada badge 4S (Sapa, Senyum, Sopan, Sabar .) tetapi pada kenyataannya Sapa, dan Senyum, adalah sesuatu yang sangat langka pada para kasir TransJakarta ini. Kalau kita biasa mendengar sapaan/ucapan salam dan ucapan terima kasih dari kasir kasir di Supermarket atau di tempat lain, tidak usah berharap mendapatkannya dari kasir TransJakarta. Saya kira ketidakramahan ini pertanda mereka tidak “happy” dengan pekerjaannya. Apakah kemungkinan mereka digaji terlalu rendah? Atau ……sedang terkena sindrom menstruasi (hampir semua kasir ini perempuan)?
Saya termasuk yang senang sewaktu TransJakarta mulai memakai e-tiketing alias mewajibkan penumpang membayar memakai kartu. Meskipun saya lebih suka berinteraksi dengan orang dari pada dengan mesin, tetapi buat apa berinteraksi dengan kasir yang jutek, ogah ogahan, dan tidak ramah? Sejak TransJakarta memakai e-tiketing saya terbebas dari wajah wajah jutek kasir TransJakarta.
Tetapi ternyata itu hanya sementara. Isi kartu debit harus saya isi ulang kalau habis. Jadi ternyata saya belum sepenuhnya terbebas dari wajah wajah jutek dan ketidakramahan kasir TransJakarta. Terakhir, saya mengalami lagi kejutekan dan ketidakramahan kasir TransJakarta, sewaktu isi ulang kartu seminggu yang lalu , Sabtu 30/4/2016 jam 11:30 di Halte Busway Buncit Indah, Jakarta Selatan.
Meskipun saya lebih suka berinteraksi dengan orang dari pada dengan mesin, saya berharap TransJakarta segera menyediakan Vending Machine untuk isi ulang kartu, dan memutasi para kasir jutek ke bagian yang hanya berurusan dengan kertas dan benda mati, bukan bagian yang berinteraksi dengan manusia.
Tentang Kasir kasir Jutek TransJakarta, ternyata buka hanya saya yang mengalaminya. Silakan baca di link beriku ini, terutama di poin 5.
http://anandastoon.com/balada-transjakarta/hiburan/7-alasan-mengapa-tidak-ada-hantu-busway/