Skip to content

Kezaliman Dibalik Biaya Top Up Uang Elektronik

September 25, 2017

Mengenai dikenakannya biaya untuk pengisian ulang (top up) uang elektronik, Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati menyebutnya sebagai sebuah kezaliman. Hal ini dikatakannya dalam sebuah acara di Metro TV, 18 September 2017. Namun, pihak yang ingin menerapkan pengenaan biaya untuk top up tersebut beralasan bahwa penyediaan sarana transaksi non tunai dengan uang elektronik memerlukan dana yang tidak sedikit. Sehingga pembiayaan untuk infrastruktur tersebut dipandang perlu untuk ditanggung bersama oleh semua pihak yang melakukan transaksi non tunai, termasuk masyarakat/konsumen pengguna uang elektronik.
Tentu benar bahwa, penyediaan infrastruktur untuk transaksi non tunai dengan uang elektronik memerlukan dana yang tidak sedikit. Tetapi apakah masyarakat/konsumen pengguna uang elektronik yang harus menanggung biaya itu?
Sebenarnya, pihak Korporasi adalah pihak yang paling banyak diuntungkan dengan pembayaran memakai uang elektronik.
Sewaktu TransJakarta beralih dari pembayaran tunai ke pembayaran memakai uang elektronik, maka TransJakarta diuntungkan sekurang-kurangnya dengan tidak perlu lagi menugaskan karyawan di loket untuk menjual tiket, dan karyawan lainnya di pintu masuk untuk menyobek tiket.
Bank-bank penerbit kartu e-money (uang elektronik) juga diuntungkan sekurang-kurangnya dengan meningkatnya penjualan kartu e-money, dan masuknya dana segar dari para penumpang TransJakarta yang dipaksa beralih dari pembayaran tunai ke pembayaran memakai uang elektronik.
Lalu, apa keuntungan yang dinikmati penumpang TransJakarta yang beralih dari pembayaran tunai ke pembayaran memakai uang elektronik ? Tidak ada. Peralihan dari pembayaran tunai ke pembayaran memakai uang elektronik bukanlah pilihan mereka. Para penumpang ini adalah pihak yang tidak punya pilihan lain, kecuali  harus memakai uang elektronik kalau masih ingin naik TransJakarta.
Hal yang serupa terjadi pada waktu Jalan Tol tidak lagi menerima uang tunai dan beralih ke transaksi uang elektronik. Pengguna jalan Tol hanyalah pihak yang tidak punya pilihan lain, kecuali  harus memakai uang elektronik kalau masih ingin masuk jalan Tol.

Tidak sulit untuk memahami, bahwa dengan transaksi memakai uang elektronik, maka perkerjaan kasir di perusahaan penyedia jasa/barang, jadi jauh lebih sedikit. Bahkan, bukan tidak mungkin, fungsi kasir di perusahaan yang menerapkan sepenuhnya transaksi memakai uang elektronik bisa dihilangkan. Perusahaan juga tidak lagi menghadapi resiko menerima uang palsu. Resiko dirampok waktu membawa uang untuk disetorkan/tarik ke/dari Bank juga tidak ada lagi, karena uang tidak perlu dipindahkan secara fisik, hanya angka/jumlahnya yang berpindah secara elektronik.

Juga tidak sulit untuk memahami, bahwa pihak Bank penerbit kartu e-money (uang elektronik) adalah pihak yang diuntungkan.  Dengan transaksi memakai uang elektronik, pekerjaan teller di Bank jadi jauh lebih ringan. Resiko Bank menerima uang palsu juga makin kecil. Kegiatan kirim uang tunai antar Bank atau ke ATM jauh berkurang, karena tidak banyak lagi uang tunai yang perlu dipindahkan secara fisik. Dan yang lebih menguntungkan lagi bagi Bank penerbit kartu e-money (uang elektronik) adalah masuknya dana setoran para pemilik kartu e-money (uang elektronik) menjadi asset mereka. Ingat, cash is King!

Apakah Bank Indonesia dan Pemerintah juga diuntungkan oleh transaksi memakai uang elektronik? Tentu saja! Peluang peredaran uang palsu makin sempit. Anggaran Biaya untuk cetak uang baru bisa dikurangi, karena tidak perlu lagi sering cetak uang untuk mengganti uang tunai yang aus/lecek akibat terlalu sering pindah tangan dalam transaksi tunai.
Keuntungan lain yang dinikmati Bank Indonesia dan Pemerintah dari transaksi memakai uang elektronik adalah kemudahan untuk mengakses informasi kegiatan transaksi. Informasi ini bisa digunakan misalnya, untuk basis data kegiatan ekonomi sebagai acuan Bank Indonesia dan Pemerintah untuk pengambilan keputusan dan perumusan strategi.
Dengan banyaknya keuntungan yang dinikmati pihak pihak korporasi Penyedia jasa/barang, Bank dan Pemerintah, maka sudah sewajarnya pihak pihak tersebut yang menanggung biaya penyediaan infrastruktur transaksi memakai uang elektronik. Membebankan biaya tersebut kepada pengguna kartu e-money (uang elektronik) adalah kerakusan, dan bahkan kezaliman.

Advertisements

Jangan Simpan Semua Telur Dalam Satu Keranjang

August 27, 2017

Saya hanya punya dua ATM. Masing-masing dari dua Bank yang berbeda. Setiap bepergian hanya satu ATM yang saya bawa. Saya memang menghindari membawa dua ATM sekaligus. Saya tidak ingin ditimpa kerepotan kalau kedua ATM itu hilang.
Jumat malam, 25 Agustus 2017 saya di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan. Saya bermaksud melakukan penarikan uang tunai di ATM BCA yang ada di lantai 1 di Mal tersebut. Namun ternyata pintu ruangan ATM BCA ditutup dan ada tulisan “Maaf Offline” pada selembar kertas yang ditempel di pintu itu. Di Mal Pejaten Village, ATM BCA hanya ada di dalam ruangan itu. Kalau tidak salah ada sekitar 8-10 ATM di dalamnya.
Masalahnya adalah, uang tunai saya tinggal satu lembar Rp 50 ribu, 2 lembar Rp 20 ribu, dan beberapa lembar Rp 2 ribu, serta beberapa koin Rp 500 dan Rp 100. Untungnya, saya bawa kartu kredit, sehingga rencana saya untuk beli beberapa keperluan tetap terlaksana. Untungnya (lagi) saya masih punya saldo yang cukup di kartu yang biasa saya pakai untuk naik TransJakarta. Saldo saya di sebuah provider transportasi berbasis aplikasi/online juga masih cukup. Jadi tidak ada masalah untuk soal transportasi saya pulang ke rumah.
Esok harinya, Sabtu, 26 Agustus 2017 saya ada keperluan di STC Senayan. Sebelum berangkat, saya membawa kartu ATM saya yang lain (dari Bank Mandiri). Kartu ATM BCA saya tinggal di rumah.
Setelah selesai dengan urusan saya STC Senayan, siang harinya, saya ke Plasa Senayan yang letaknya bersebelahan dengan STC Senayan. Sewaktu saya melewati tempat ATM BCA di Plasa Senayan, saya lihat beberapa orang yang sepertinya mau ke ATM BCA, tetapi mereka semua kemudian berbalik. Setelah saya lihat ternyata ATM BCA di Plasa Senayan juga Offline. Seperti yang saya alami kemarin, tentu mereka semua kecewa karena gagal menarik uang tunai, atau mentransfer dana, atau membayar tagihan, atau mengisi ulang pulsa, dan lain-lain.
Seorang petugas Satpam mengatakan, sudah sejak kemarin ATM BCA di Plasa Senayan tersebut Offline. Ternyata gangguan yang terjadi di ATM BCA masih berlangsung. Saya tidak menyangka gangguan ini cukup lama dan meluas, tidak hanya di Mal Pejaten Village. Untungnya, hari itu saya bawa ATM dari Bank Mandiri, bukan BCA.

Belakangan saya baru mengetahui bahwa, gangguan  ATM BCA bukan hanya di  Plasa Senayan dan di Mal Pejaten Village, tetapi juga di banyak tempat. Hal ini merupakan dampak gangguan Satelit Telkom 1.  Jumlah ATM BCA yang terkena dampaknya mencapai 5.700 ATM atau 30 persen dari total 17.210 unit ATM yang dimiliki BCA.  BCA membutuhkan waktu  2-3 pekan untuk memulihkan ATM, dengan mengalihkannya ke  Satelit Komunikasi lain. 

Kabarnya, sebagian ATM Mandiri juga terkena dampak gangguan Satelit Telkom 1. Ada 13 persen  (sekitar 2000 ATM) milik Bank Mandiri yang terkena dampak terganggunya Satelit Telkom 1.   Untungnya, ATM Mandiri yang kemarin saya gunakan tidak terkena, karena umumnya ATM Mandiri yang terganggu tersebut berlokasi di daerah remote (pulau-pulau terluar).

Jadi, jangan simpan semua telur dalam satu keranjang. Jangan taruh semua tabungan dalam satu rekening/ATM dalam satu bank. Jangan bawa semua ATM dalam satu dompet. Jangan andalkan satu Satelit Komunikasi untuk semua jaringan ATM 🙂

 “

Akibat Cara Menyikat Gigi Yang Keliru

August 20, 2017

Satu diantara yang saya sesali dalam hidup ini adalah kekeliruan saya dalam cara menyikat gigi. Selama ini saya menyikat gigi dengan cara menggerakkan sikat gigi maju mundur (mendatar melintang arah tumbuh gigi), dan kadang-kadang juga dengan cara menggerakkan sikat gigi naik turun. Padahal dulu saya pernah diberitahu, cara menyikat gigi yang benar adalah searah dengan cara menggerakkan sikat searah tumbuh gigi (gigi atas disikat ke arah bawah, gigi bawah disikat ke arah atas).

Saya baru menyadari kekeliruan itu setelah sering merasa ngilu pada beberapa pangkal gigi. Ternyata ini akibat cara menyikat gigi yang naik turun. Ketika sikat bergerak berlawanan arah tumbuh gigi maka sebagian gusi tertekan/turun. Lama-lama bagian pangkal gigi yang seharusnya tertutup gusi menjadi terbuka. Kondisi ini diperparah dengan seringnya pangkal gigi yang tidak lagi terlindungi gusi itu terkena sikat. Karena pangkal gigi adalah bagian yang tidak terlindungi enamel, maka bagian itu mudah terkikis oleh sikat gigi.
Meskipun terlambat, saya telah mengubah cara saya menyikat gigi. Sekarang saya selalu menyikat gigi searah dengan arah tumbuh gigi. Meskipun tidak semudah cara yang selama ini saya lakukan, cara menyikat ke arah tumbuh gigi memang terasa lebih efektif membersihkan sisa-sisa makanan yang terselip di sela-sela gigi. Karena arah gerakan sikat ke arah tumbuh gigi, maka gusi tidak tertekan/turun. Di samping itu, saya memilih memakai sikat gigi yang soft, bahkan kalau ada, yang ultra soft.
Menyikat gigi dengan cara maju mundur masih saya lakukan, tapi hanya untuk bagian atas gigi (yang tidak dekat gusi). Menyikat bagian atas gigi ternyata juga lebih efektif dengan gerakan sikat menyamping searah sela-sela gigi, karena bulu-bulu sikat gigi akan lebih mudah menjangkau sisa-sisa makanan yg terselip di sela-sela gigi.
Andai saja saya menggunakan cara ini sejak semula, tentu gigi saya lebih sehat. Penyesalan memang selalu datang kemudian….
(gambar dari https://id.wikipedia.org/wiki/Gigi

))

 

Lapar Mengajarmu Rendah Hati Selalu…?

June 18, 2017

Judul posting ini memang sepenggal syair dalam lagu Bimbo karya Taufiq Ismail yang berjudul “Anak Bertanya Pada Bapaknya”. Apakah lapar yang kita rasakan sewaktu menunaikan ibadah puasa telah menuntun kita menuju rendah hati?
Seseorang yang lapar dalam jangka waktu lama, kadar glukosa/gula darah di dalam tubuhnya sangat terganggu. Padahal otak sangat bergantung pada glukosa agar bisa melakukan tugasnya dengan optimal.  Saat Anda merasa lapar dan kadar gula darah Anda menurun tajam, Anda mungkin akan mengalami kesulitan berkonsentrasi. Hal ini menyebabkan tugas yang mudah menjadi sulit untuk dikerjakan. Bahkan berpotensi menyebabkan Anda membuat sejumlah keteledoran. Otak yang kekurangan glukosa juga akan kesulitan untuk mengontrol gejala amarah. Gula darah rendah juga dapat disertai dengan kecemasan, kelelahan dan sakit kepala.

Larangan makan dan minum di siang hari selama Ramadhan adalah ujian dahsyat, bukan hanya laparnya, tetapi juga karena makin lemahnya kemampuan kita mengendalikan emosi dan mengelola pikiran kita. Kita dituntut untuk bisa mengendalikan emosi/nafsu amarah, justru  pada waktu sarana pengendalian yang kita miliki berada pada tingkat yang sangat rendah.

Jadi, sepertinya puasa yang diwajibkan bagi umat Muslim (dan umat-umat terdahulu), salah satunya adalah untuk memaksa kita menyadari kelemahan kita. Hanya karena jadwal makan tertunda, kita sudah kesulitan mengelola pikiran, emosi dan hidup kita. Bagaimana sulitnya mereka yang makannya bukan hanya tertunda, tetapi selalu berkekurangan?
Semoga lapar ini mendorong kita berempati pada mereka yang menderita lapar sepanjang waktu, karena memang tidak sanggup memperoleh makanan yang cukup.
Kembali kepada pertanyaan di awal, apakah lapar yang kita rasakan sewaktu menunaikan ibadah puasa telah menuntun kita menuju rendah hati? Menurut saya, jawabannya adalah “Ya”. Tinggal tergantung apakah yang dituntun mau menjadi rendah hati.

​Soto Banjar dengan Perkedel Singkong

January 14, 2017

Saya yakin, banyak di antara Anda yang pernah menikmati Soto Banjar, kuliner dari Kalimantan Selatan. Meskipun merupakan kuliner khas Kalimantan Selatan, di Jakarta juga ada beberapa rumah makan yang menyajikan Soto Banjar. Saya termasuk yang menggemari hidangan ini. 

Untuk Anda yang belum pernah menikmati Soto Banjar, saya berikan sedikit ilustrasi. Dalam semangkuk atau sepiring (kadang juga ada yang menyajikannya di atas piring) Soto Banjar, Anda dapat menemukan daging ayam, soun, telur rebus, dan perkedel dalam kuah yang bening. Soto Banjar hampir selalu disajikan bersama ketupat atau lontong. Konon Soto Banjar yang asli memakai telur bebek, bukan telur ayam. Perkedelnya juga dari singkong, bukan dari kentang.

Perkedel singkong di Soto Banjar berbeda dengan perkedel singkong untuk Tahu Campur (kuliner khas Lamongan, Jawa Timur). Meskipun saya juga suka Tahu Campur (saya lama tinggal di Surabaya), saya tidak suka dengan perkedel singkong yang di Tahu Campur. Saya tidak tahu apakah bahan, bumbu ataupun cara pembuatannya yang menyebabkann ke dua macam perkedel singkong ini berbeda rasanya dan juga warnanya. Perkedel singkong Soto Banjar berwarna putih dan rasanya gurih. Sedangkan perkedel singkong Tahu Campur warnanya kuning dan buat saya rasanya aneh. Maaf ini hanya soal selera, jadi sangat subjektif.

Setiap memesan Tahu Campur, saya selalu minta agar tidak usah diberi perkedel singkong. Sebaliknya, saya ingin sekali menikmati Soto Banjar yang disajikan dengan perkedel singkong, seperti yang sering saya nikmati pada waktu saya masih tinggal di Banjarmasin. 

Sayang sekali, di beberapa tempat yang menyediakan Soto Banjar, saya hampir tidak pernah lagi menemukan Soto Banjar yang disajikan dengan perkedel singkong. Bukan hanya di Jakarta, sewaktu saya  ke Banjarmasin bulan Oktober dan bulan Desember 2016 lalu, saya juga tidak berhasil menemukan Soto Banjar yang disajikan dengan perkedel singkong. Beberapa warung dan rumah makan menyajikan Soto Banjar dengan perkedel kentang, atau bahkan tanpa perkedel sama sekali.

Seorang teman dari Banjarmasin yang juga hobby memasak mengatakan, pada masa yang lalu kentang memang tidak banyak dijual di Kalimantan Selatan. Sedangkan singkong (dalam bahasa Banjar disebut gumbili) tersedia banyak sekali. Sekarang, dengan semakin mudahnya transportasi, kentang jadi mudah diperoleh di Kalimantan Selatan.  Soto Banjar yang dulu selalu memakai perkedel singkong, kemudian ada alternatif memakai perkedel kentang.

Tadi saya mengatakan Soto Banjar yang asli memakai telur bebek. Sepertinya kondisi lahan Kalimantan Selatan yang banyak rawa, memang sesuai untuk peternakan bebek. Sehingga dahulu telur bebek lebih banyak dijual di pasar. Dengan makin banyak pasokan telur ayam, mungkin, sekarang Soto Banjar lebih banyak yang memakai telur ayam dari pada telur bebek. Saya kurang bisa membedakan rasa telur ayam dengan telur bebek. Jadi bagi saya Soto Banjar yang memakai telur ayam tidak banyak berbeda dengan Soto Banjar yang memakai telur bebek. 

Saya berharap, suatu hari dapat menikmati Soto Banjar yang asli, yang memakai telur bebek, dan perkedel singkong.

Gambar diambil dari wikipedia

Biaya Top Up TransJakarta Untuk Donasi Lansia?

January 8, 2017

Sabtu, 7 Januari 2016, sekitar jam 12:30, saya akan naik Bus TransJakarta di Halte Imigrasi, Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Karena saldo kartu Flazz BCA saya tidak cukup, maka saya ke loket kasir TransJakarta untuk mengisi saldo (top up). Kasir TransJakarta mengatakan, sekarang setiap kali top up dikenakan biaya Rp 2000., sambil menunjuk ke pengumuman yang ditempel di depan loket (lihat gambar di bawah). Kasir TransJakarta juga mengatakan, nanti biaya Rp 2000. itu akan didonasikan untuk para Lansia.

070120175127_1
Saya menanyakan donasi itu untuk para Lansia mana? (Maksud saya, lansia di panti jompo apa? Atau lansia yang diasuh oleh yayasan apa?). Kasir TransJakarta tidak bisa menjawab pertanyaan saya.
Saya juga mengatakan bahwa di pengumuman ini, tidak ada keterangan bahwa biaya Rp 2000. itu akan didonasikan untuk para Lansia. Kasir TransJakarta menjawab, sesuai arahan perusahaan (PT Transportasi Jakarta), kalau ada penumpang TransJakarta yang bertanya, dia harus menjelaskan bahwa biaya Rp 2000. itu akan didonasikan untuk para Lansia. Sepertinya, manajemen TransJakarta kurang lengkap dalam memberikan penjelasan kepada kasirnya mengenai kegiatan donasi untuk lansia ini.
Karena soal donasi yang tidak jelas ini, saya mau mengatakan, tidak jadi melakukan top up di kasir TransJakarta. Tidak jauh dari halte ini ada ATM BCA. Dari pada terlibat dan mendukung kegiatan pengumpulan dana yang tidak jelas arahnya, lebih baik saya sedikit mengorbankan waktu dan energi dengan berjalan kaki ke ATM BCA itu untuk melakukan top up.
Melihat saya tampak enggan dikenakan biaya top up Rp 2000., kasir TransJakarta lalu menanyakan apakah saya punya kartu debit? Kata dia, top up dengan kartu debit tidak dikenakan biaya. Saya segera mengeluarkan kartu debit BCA saya. Kasir TransJakarta kemudian mengisikan saldo di kartu Flazz BCA saya.
Dengan menulis posting ini, saya tidak sedang mempengaruhi Anda untuk tidak peduli kepada Lansia. Saya tidak sedang mempengaruhi Anda untuk tidak mendukung suatu usaha dan niat baik TransJakarta, atau perusahaan / lembaga lain, atau siapapun. Saya hanya ingin mengatakan, saya tidak mau terlibat dan mendukung kegiatan pengumpulan dana yang tidak jelas dan tidak transparan. Seharusnya, di samping penjelasan dan arahan yang lengkap kepada kasir dan staf front liner, TransJakarta juga wajib mengumumkan kegiatan penggalangan dana donasi untuk lansia ini kepada pengguna layanan TransJakarta. Andai kegiatan ini dikomunikasikan dengan baik dan dijamin bahwa akan dilaksanakan secara bertanggung jawab, saya yakin banyak yang akan mendukung.

Bagaimana menurut pendapat Anda?

Tap Out Mengorbankan Kenyamanan Penumpang TransJakarta

September 27, 2016

Sajak September 2016, TransJakarta mewajibkan pepengumuman-ta-outnumpang untuk Tap Out (menempelkan kartu sebelum keluar halte Busway). Penumpang akan terhalang untuk keluar halte apabila tidak menempelkan kartu. Saya pernah menanyakan untuk apa aturan ini dibuat? Petugas Busway mengatakan, tidak usah khawatir, saldo di kartu tidak akan dipotong.. Lha iya lah… keluar halte koq dipotong? Kalau sampai TransJakarta memotong saldo swaktu Tap Out, itu namany
a “nyolong”. Kata dia tujuan aturan ini adalah untuk mendata penumpang, naik darimana, dan turun di mana.

Mendata penumpang? Kelihatannya
tujuan ini bagus, tetapi proses mengambil data ini dllakukan TransJakarta dengan mengorbankan kenyamanan penumpang. Seperti kita ketahui bersama, di halte Busway biasanya hanya ada satu lajur keluar. Akibatnya, aturan ini menimbulkan kemacetan dan antrian panjang penumpang, apalagi pada jam-jam sibuk. Ketidaknyamanan makin terasa di halte busway yang sempit. Anda pasti tahu, halte halte busway yang sempit lebih banyak dari pada yang luas.antrian-tap-out

Seharusnya TransJakarta bisa lebih “smart” dalam mengambil data tanpa mengorbankan kenyamanan penumpang. Bukankah selama ini, setiap penumpang yang keluar halte harus mendorong dan melewati batang/bar lajur keluar? Seharusnya jumlah kumulatif penumpang yang keluar halte sudah dapat didata oleh Counter yang dipasang di lajur keluar itu, tanpa perlu Tap Out yang menimbulkan kemacetan dan antrian panjang yang mengganggu kenyamanan penumpang. Tentu saja, cara ini hanya menghasilkan data agregat, bukan data individu per penumpang.

Sepertinya, dengan mewajibkan Tap Out, TransJakarta ingin mendata penumpang secara sangat teliti sampai per individu penumpang. TransJakarta ingin tahu, Anda naik dari halte mana, pada jam berapa, keluar di halte mana, pada jam berapa. Dari data itu, TransJakarta dapat mengetahui berapa waktu tempuh perjalanan Anda, berapa kali transit, rute dan koridor mana yang Anda lewati. seberapa sering Anda naik TransJakarta, dan lain-lain.

Saya tidak tahu, apakah data yang teliti per individu penumpang begitu penting bagi TransJakarta, sehingga harus dilakukan dengan Tap Out yang mengorbankan kenyamanan penumpang. Kalau pihak manajemen TransJakarta memang perlu data yang teliti, sebenarnya Tap Out dapat dilakukan secara sampling pada hari dan waktu tertentu saja, secara periodik ataupun random, bukan terus menerus setiap hari. Seharusnya pihak TransJakarta memahami bahwa teknik-teknik sampling statitik sudah cukup canggih untuk mendapatkan data yang cukup teliti dengan upaya yang minimal.

Teknik sampling bahkan sudah dipraktekan oleh ibu dan nenek kita sejak jaman dulu. Lihat saja, sewaktu memasak beliau sudah sangat faham bahwa untuk memastikan komposisi bumbu, bahan dan tingkat kematangan masakan, beliau cukup mencicipi sekitar satu sendok kecil, tidak perlu dengan menyantap sebanyak satu piring. Hal ini beliau lakukan meskipun mungkin beliau tidak pernah belajar statistik dan teknik sampling. Contoh sampling yang mungkin sangat familoar dengan kita adalah Quick Count. Hasil Quick Count yang sering kali sangat akurat itu dilakukan dengan sampling atas sebagian kecil pemilih, bukan dengan mendata seluruh pemilih.

Jadi saharusnya TransJakarta cukup memberlakukan Tap Out secara sampling saja. Dengan demikian, gangguan terhadap kenyamanan penumpang dapat diminimalkan. Bagaimana menurut Anda?