Skip to content

Dua Kali Berutang Budi

June 8, 2016

Hari ini dan sejak masuk bulan Ramadhan Jemaah salat Maghrib di Masjid kantor saya jauh lebih banyak dari pada biasanya. Selama bulan Ramadhan Masjid ini biasanya menyediakan hidangan buka puasa. Penganan kecil sebelum salat Maghrib, dan makanan (nasi, sayur dan lauk ) setelah salat Maghrib.
Seusai salat, saya antri bersama jemaah lain untuk mendapatkan nasi kotak. Ketika sampai giliran saya, saya dengar suara : “Nasi kotak habis”. Mendengar hal itu, saya sedang akan berbalik meninggalkan tempat pengambilan nasi kotak, tiba tiba seseorang menyodorkan sebuah nasi kotak kepada saya. Sejenak saya ragu, tetapi akhirnya saya terima juga, dan mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Saya pikir, mungkin orang yang memberikan nasi kotak itu adalah petugas mesjid yang memang membagi bagikan nasi kotak buka puasa.
Nasi kotak itu saya nikmati sambil duduk bersama jemaah lain. Saat makan, saya teringat pada orang yang memberikan nasi kotak tadi. Apa betul, dia petugas yang membagi bagikan nasi kotak? Bukankah tadi dikatakan bahwa nasi kotak sudah habis ? Bagaimana kalau dia adalah salah seorang jemaah yang merelakan jatah makannya? Tiba tiba saya merasa berutang budi, bahkan merasa bersalah, telah mengambil nasi kotak itu. Jangan jangan dia sendiri tidak makan, karena saya. Tetapi, saya kembali menghibur diri dengan mencoba menganggap bahwa orang itu adalah petugas mesjid yang memang membagi bagikan nasi kotak buka puasa.
Selesai makan, saya kembali ke ruang kerja saya. Setelah mematikan komputer, saya bersiap pulang. Namun sewaktu akan masuk lift, saya tersadar bahwa ponsel saya belum saya bawa. Saya kembali ke ruang kerja, tetapi tidak menemukan ponsel itu. Kemudian saya ingat, tadi sore saya membawa ponsel itu ke kamar kecil. Saya segera ke kamar kecil, tetapi saya tidak menemukan ponsel itu. Saya keluar dari kamar kecil, dan mulai putus asa, sepertinya ponsel itu harus saya relakan untuk hilang …
Tiba tiba seorang Satpam menegur saya. Saya katakan, bahwa saya mencari ponsel saya. Satpam itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari mejanya, dan mengatakan “Yang ini, ya Pak?”. Dia memperlihatkan sebuah benda yang sangat saya kenal : ponsel saya. Saya sungguh lega dan gembira. Ternyata ponsel saya tidak hilang. Saya mengucapkan terima kasih kepada Satpam yang telah mengamankan ponsel saya.
Dalam sehari ini, saya telah dua kali berutang budi. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka. Amin!

Advertisements
No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: