Skip to content

Tap Out Mengorbankan Kenyamanan Penumpang TransJakarta

September 27, 2016

Sajak September 2016, TransJakarta mewajibkan pepengumuman-ta-outnumpang untuk Tap Out (menempelkan kartu sebelum keluar halte Busway). Penumpang akan terhalang untuk keluar halte apabila tidak menempelkan kartu. Saya pernah menanyakan untuk apa aturan ini dibuat? Petugas Busway mengatakan, tidak usah khawatir, saldo di kartu tidak akan dipotong.. Lha iya lah… keluar halte koq dipotong? Kalau sampai TransJakarta memotong saldo swaktu Tap Out, itu namany
a “nyolong”. Kata dia tujuan aturan ini adalah untuk mendata penumpang, naik darimana, dan turun di mana.

Mendata penumpang? Kelihatannya
tujuan ini bagus, tetapi proses mengambil data ini dllakukan TransJakarta dengan mengorbankan kenyamanan penumpang. Seperti kita ketahui bersama, di halte Busway biasanya hanya ada satu lajur keluar. Akibatnya, aturan ini menimbulkan kemacetan dan antrian panjang penumpang, apalagi pada jam-jam sibuk. Ketidaknyamanan makin terasa di halte busway yang sempit. Anda pasti tahu, halte halte busway yang sempit lebih banyak dari pada yang luas.antrian-tap-out

Seharusnya TransJakarta bisa lebih “smart” dalam mengambil data tanpa mengorbankan kenyamanan penumpang. Bukankah selama ini, setiap penumpang yang keluar halte harus mendorong dan melewati batang/bar lajur keluar? Seharusnya jumlah kumulatif penumpang yang keluar halte sudah dapat didata oleh Counter yang dipasang di lajur keluar itu, tanpa perlu Tap Out yang menimbulkan kemacetan dan antrian panjang yang mengganggu kenyamanan penumpang. Tentu saja, cara ini hanya menghasilkan data agregat, bukan data individu per penumpang.

Sepertinya, dengan mewajibkan Tap Out, TransJakarta ingin mendata penumpang secara sangat teliti sampai per individu penumpang. TransJakarta ingin tahu, Anda naik dari halte mana, pada jam berapa, keluar di halte mana, pada jam berapa. Dari data itu, TransJakarta dapat mengetahui berapa waktu tempuh perjalanan Anda, berapa kali transit, rute dan koridor mana yang Anda lewati. seberapa sering Anda naik TransJakarta, dan lain-lain.

Saya tidak tahu, apakah data yang teliti per individu penumpang begitu penting bagi TransJakarta, sehingga harus dilakukan dengan Tap Out yang mengorbankan kenyamanan penumpang. Kalau pihak manajemen TransJakarta memang perlu data yang teliti, sebenarnya Tap Out dapat dilakukan secara sampling pada hari dan waktu tertentu saja, secara periodik ataupun random, bukan terus menerus setiap hari. Seharusnya pihak TransJakarta memahami bahwa teknik-teknik sampling statitik sudah cukup canggih untuk mendapatkan data yang cukup teliti dengan upaya yang minimal.

Teknik sampling bahkan sudah dipraktekan oleh ibu dan nenek kita sejak jaman dulu. Lihat saja, sewaktu memasak beliau sudah sangat faham bahwa untuk memastikan komposisi bumbu, bahan dan tingkat kematangan masakan, beliau cukup mencicipi sekitar satu sendok kecil, tidak perlu dengan menyantap sebanyak satu piring. Hal ini beliau lakukan meskipun mungkin beliau tidak pernah belajar statistik dan teknik sampling. Contoh sampling yang mungkin sangat familoar dengan kita adalah Quick Count. Hasil Quick Count yang sering kali sangat akurat itu dilakukan dengan sampling atas sebagian kecil pemilih, bukan dengan mendata seluruh pemilih.

Jadi saharusnya TransJakarta cukup memberlakukan Tap Out secara sampling saja. Dengan demikian, gangguan terhadap kenyamanan penumpang dapat diminimalkan. Bagaimana menurut Anda?

Advertisements
2 Comments leave one →
  1. Sandy permalink
    November 24, 2016 12:27 pm

    Menarik artikel dan komentarnya. Saya juga kaget waktu pertama diterapkan karena terhalang saat mau keluar. Baru tau tujuan tap out setelah baca ini, saya kira bakal diterapin tarif sesuai jarak kaya krl. Tp klo menurut saya pendataan seperti itu bagus dilakukan, karena bisa meningkatkan pelayanan tj dengan menambah armada sesuai dengan kebutuhan penumpang. Menanggapi kenapa tidak disurvei saja mungkin karena manajemen tj menganggap kebutuhan masyarakat itu berubah sewaktu”. Klo dilakukan survei pun sebenernya tidak semudah yg dibayangkan. Dalam survei perlu mencari metode yg tepat, pengambilan sampel yg tepat yg membutuhkan waktu lama. Beda jika kita melakukan cacah menyeluruh.

  2. November 29, 2016 3:32 pm

    Saya sependapat dengan Mas Sandy, pendataan itu bagus dan perlu dilakukan oleh TransJakarta. Sedangkan mengenai metode, saya tetap berpendapat, apa bila TransJakarta berkomitmen pada pelayanan kepada pelanggan, maka seharusnya TransJakarta memakai cara sampling, bukan dengan pendataan terus menerus sepanjang waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: