Skip to content

Pindah ke Lain Ojek Online

July 8, 2016

Sejak Januari 2016 saya menjadi sering menggunakan ojek online. Sampai hampir 6 bulan saya hanya memakai Grab bike, dan merasa sudah cukup dengan Grab bike saja. Dengan satu aplikasi Grab bike, kita sudah dapat menggunakannya untuk Grab bike, Grab Taxi dan Grab Car. Sejauh ini, yang saya perlukan hanya ojek/ Grab bike untuk menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak/belum memerlukan Grab Taxi dan Grab Car.

image

Kemudian pada April 2016 yang lalu, saya ada pekerjaan di Semarang. Ternyata di Semarang sudah ada GoJek, tetapi belum ada Grab bike. Meskipun demikian saya masih belum tertarik memakai GoJek, karena lalu lintas di Semarang tidak macet seperti Jakarta, sehingga saya tidak perlu memakai ojek. Selain itu, saya di Semarang tidak terlalu lama.
Setelah beberapa lama memakai Grab bike, saya beberapa kali mengalami kesulitan mendapatkan pengemudi. Seingat saya, ada lebih dari tiga kali saya tidak berhasil mendapatkan pengemudi Grab bike, sehingga saya terpaksa menggunakan moda transportasi lain.
image
Di samping itu ada lebih dari 6 kali pengemudi Grab bike yang mengambil order saya ternyata tidak menyediakan head cover, padahal sewaktu memesan, saya hampir selalu menuliskan note agar pengemudi Grab bike menyediakan head / hair cover. Buat saya, head /hair cover adalah perlengkapan penting. Bayangkan saja, helm itu bukan helm milik kita, berapa kepala yang sudah bergantian memakai helm yang disediakan ojek? . Itu sama saja dengan memakai baju/pakaian yang sudah dipakai oleh orang lain. Saya tidak mau memakai helm itu tanpa head/hair cover
Saya sudah beberapa kali menuliskan masalah tidak tersedianya head/hair cover ini pada waktu memberikan feed back dan rating, tetapi saya masih sering mengalami tidak tersedianya head/hair cover. Hal hal itu mendorong saya mendownload aplikasi Gojek.
Beberapa perbedaan yang saya amati antara aplikasi Grab Bike dengan GoJek adalah :
1) Setelah kita mengisikan lokasi berangkat dan lokasi tujuan, pada peta di layar aplikasi GoJek akan tampak lintasan jalan yang akan dilewati. Pada aplikasi Grab Bike lintasan jalan ini tidak tampak.
2) Pada aplikasi Grab Bike akan tampak posisi posisi pengemudi Grab Bike disekitar lokasi berangkat. Aplikasi GoJek tidak menampakkan posisi posisi pengemudi GoJek.
3) Apabila ada pengemudi yang mengambil order kita, di aplikasi Grab Bike akan tampak nama, foto pengemudi, nomor ponsel dan nomor polisi pengemudi yang mengambil order kita. Kemudian, peta di aplikasi Grab Bike akan menampakkan posisi pengemudi yang akan mengantar kita.

4) Pada aplikasi GoJek, hanya akan muncul nama pengemudi dan perkiraan waktu, tetapi di peta tidak tampak posisi pengemudi yang mengambil order kita.
Saya baru sekitar tiga kali memakai GoJek. Tetapi yang saya suka, ke tiga pengemudi GoJek yang mengambil order saya semua menyediakan head/hair cover. Saya menduga, Gojek memang menganggap penting Hair Cover dan Masker untuk penggunanya. Gojek telah membuat sistem untuk memastikan pengemudi GoJek menyediakan Head/Hair Cover dan Masker untuk pengguna /penumpang. Hal ini tampak pada bagian Rating dan Comment, aplikasi GoJek sudah menyiapkan form feed back “Driver did not provide face mask and hair cover “. Kalau pengemudi GoJek tidak menyediakan Hair Cover dan Masker, pengguna dapat langsung mencentangnya dan mengirimkan feed back itu .
Di aplikasi Grab Bike, feedback mengenai tidak tersedianya Hair Cover dan Masker ini harus kita tulis sendiri.

image

Advertisements

Dua Kali Berutang Budi

June 8, 2016

Hari ini dan sejak masuk bulan Ramadhan Jemaah salat Maghrib di Masjid kantor saya jauh lebih banyak dari pada biasanya. Selama bulan Ramadhan Masjid ini biasanya menyediakan hidangan buka puasa. Penganan kecil sebelum salat Maghrib, dan makanan (nasi, sayur dan lauk ) setelah salat Maghrib.
Seusai salat, saya antri bersama jemaah lain untuk mendapatkan nasi kotak. Ketika sampai giliran saya, saya dengar suara : “Nasi kotak habis”. Mendengar hal itu, saya sedang akan berbalik meninggalkan tempat pengambilan nasi kotak, tiba tiba seseorang menyodorkan sebuah nasi kotak kepada saya. Sejenak saya ragu, tetapi akhirnya saya terima juga, dan mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Saya pikir, mungkin orang yang memberikan nasi kotak itu adalah petugas mesjid yang memang membagi bagikan nasi kotak buka puasa.
Nasi kotak itu saya nikmati sambil duduk bersama jemaah lain. Saat makan, saya teringat pada orang yang memberikan nasi kotak tadi. Apa betul, dia petugas yang membagi bagikan nasi kotak? Bukankah tadi dikatakan bahwa nasi kotak sudah habis ? Bagaimana kalau dia adalah salah seorang jemaah yang merelakan jatah makannya? Tiba tiba saya merasa berutang budi, bahkan merasa bersalah, telah mengambil nasi kotak itu. Jangan jangan dia sendiri tidak makan, karena saya. Tetapi, saya kembali menghibur diri dengan mencoba menganggap bahwa orang itu adalah petugas mesjid yang memang membagi bagikan nasi kotak buka puasa.
Selesai makan, saya kembali ke ruang kerja saya. Setelah mematikan komputer, saya bersiap pulang. Namun sewaktu akan masuk lift, saya tersadar bahwa ponsel saya belum saya bawa. Saya kembali ke ruang kerja, tetapi tidak menemukan ponsel itu. Kemudian saya ingat, tadi sore saya membawa ponsel itu ke kamar kecil. Saya segera ke kamar kecil, tetapi saya tidak menemukan ponsel itu. Saya keluar dari kamar kecil, dan mulai putus asa, sepertinya ponsel itu harus saya relakan untuk hilang …
Tiba tiba seorang Satpam menegur saya. Saya katakan, bahwa saya mencari ponsel saya. Satpam itu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari mejanya, dan mengatakan “Yang ini, ya Pak?”. Dia memperlihatkan sebuah benda yang sangat saya kenal : ponsel saya. Saya sungguh lega dan gembira. Ternyata ponsel saya tidak hilang. Saya mengucapkan terima kasih kepada Satpam yang telah mengamankan ponsel saya.
Dalam sehari ini, saya telah dua kali berutang budi. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka. Amin!

Kasir kasir Jutek TransJakarta

May 7, 2016

Saya menjumpai banyak petugas TransJakarta yang sopan, ramah dan informatif. Yang paling saya ingat adalah sewaktu saya terpaksa keluar dari Halte Busway Imigrasi Mampang Jakarta Selatan, karena tidak berhasil masuk bus setelah menunggu lama. Waktu itu seorang petugas kebersihan Halte TransJakarta memberi tahu saya bahwa hari itu bus memang sangat padat , karena ada sejumlah Bus TransJakarta yang dihentikan operasi nya, karena sudah tidak layak jalan (dipicu oleh kejadian terbakarnya sebuah Bus TransJakarta sehari sebelumnya). Yang sangat mengesankan, petugas kebersihan ini mengatakannya sambil meminta maaf. Andai saja semua karyawan dan karyawati TransJakarta seperti ini. Saya sampai menyempatkan untuk memotret petugas ini.(lihat gambar di bawah)
Namun tidak semua petugas TransJakarta sopan, ramah dan informatif. Kasir TransJakarta rata rata tidak ramah alias jutek. Sewaktu TransJakarta masih pakai karcis, membeli tiket di loket TransJakarta adalah bagian yang paling tidak saya sukai, disamping kegiatan menunggu kedatangan Bus. Di seragam para kasir TransJakarta memang ada badge 4S (Sapa, Senyum, Sopan, Sabar .) tetapi pada kenyataannya Sapa, dan Senyum, adalah sesuatu yang sangat langka pada para kasir TransJakarta ini. Kalau kita biasa mendengar sapaan/ucapan salam dan ucapan terima kasih dari kasir kasir di Supermarket atau di tempat lain, tidak usah berharap mendapatkannya dari kasir TransJakarta. Saya kira ketidakramahan ini pertanda mereka tidak “happy” dengan pekerjaannya. Apakah kemungkinan mereka digaji terlalu rendah? Atau ……sedang terkena sindrom menstruasi (hampir semua kasir ini perempuan)?
Saya termasuk yang senang sewaktu TransJakarta mulai memakai e-tiketing alias mewajibkan penumpang membayar memakai kartu. Meskipun saya lebih suka berinteraksi dengan orang dari pada dengan mesin, tetapi buat apa berinteraksi dengan kasir yang jutek, ogah ogahan, dan tidak ramah? Sejak TransJakarta memakai e-tiketing saya terbebas dari wajah wajah jutek kasir TransJakarta.
Tetapi ternyata itu hanya sementara. Isi kartu debit harus saya isi ulang kalau habis. Jadi ternyata saya belum sepenuhnya terbebas dari wajah wajah jutek dan ketidakramahan kasir TransJakarta. Terakhir, saya mengalami lagi kejutekan dan ketidakramahan kasir TransJakarta, sewaktu isi ulang kartu seminggu yang lalu , Sabtu 30/4/2016 jam 11:30 di Halte Busway Buncit Indah, Jakarta Selatan.
Meskipun saya lebih suka berinteraksi dengan orang dari pada dengan mesin, saya berharap TransJakarta segera menyediakan Vending Machine untuk isi ulang kartu, dan memutasi para kasir jutek ke bagian yang hanya berurusan dengan kertas dan benda mati, bukan bagian yang berinteraksi dengan manusia.
Tentang Kasir kasir Jutek TransJakarta, ternyata buka hanya saya yang mengalaminya. Silakan baca di link beriku ini, terutama di poin 5.
http://anandastoon.com/balada-transjakarta/hiburan/7-alasan-mengapa-tidak-ada-hantu-busway/

Terima kasih Petugas Check In Desk Batik Air

May 5, 2016

Rabu, 13 April 2014, saya pergi ke Semarang. Penerbangan saya, Batik Air, ID 6352 dijadwalkan berangkat jam 19:50 WIB dari Terminal 1C Bandara Soekarno Hatta. Saya berangkat dari kantor saya di Blok M , Jakarta Selatan, sekitar jam 17:30. Saya pikir, masih cukup waktu untuk sampai di Bandara.
Seperti biasa, setelah melewati Jalan Sudirman, kendaraan yang saya naiki akan masuk jalan Tol di dekat Semanggi. Tetapi sore itu, laju kendaraan menuju pintu Tol serasa seperti merayap. Kemudian terjadilah hal yang saya khawatirkan. Beberapa kendaraan , termasuk kendaraan yang saya naiki diarahkan keluar dari antrian. Kami terpaksa “merayap” di Jalan Gatot Subroto menuju pintu Tol Slipi. Waktu untuk mencapai pintu Tol Slipi terasa sangat lama. Saya khawatir akan terlambat sampai di Bandara Soekarno Hatta. Saya sampai tidak berani melihat jam, karena akan membuat saya makin khawatir.
Setelah masuk pintu Tol Slipi, sampai ke Bandara Soekarno Hatta jalan cukup lancar, tetapi waktu sudah banyak dihabiskan sewaktu antri di depan pintu Tol Semanggi dan kemudian “merayap ” untuk mencapai pintu Tol Slipi.
Saya sampai di Terminal 1 C Bendara Soekarno Hatta sekitar jam 19:30. Setengah berlari saya menuju Check In Desk Batik Air. Petugas Chek In tampak agak terkejut sewaktu membaca tiket saya.
“Semarang?… Pesawatnya sudah boarding. Coba saya tanya atasan saya dulu.” Mbak petugas Check In Desk Batik Air ini berlari ke sebuah ruangan di sudut terminal. Saya sudah pasrah andai tidak bisa berangkat. Tetapi kemudian, saya melihat Mbak petugas Check In Desk Batik Air ini keluar dari ruangan itu dan mengacungkan selembar kertas yang ternyata adalah Boarding Pass untuk saya.

“Pak, langsung ke Gate No….. (saya lupa). Tolong cepat cepat, Pak. Pesawat sudah mau berangkat.” Katanya sambil berlari dan memberikan Boarding Pass.
Setelah mengucapkan terima kasih, atas bantuannya, saya berlari ke Gate tempat Batik Air akan berangkat. Untunglah disediakan Garbarata, sehingga saya dapat langsung masuk pesawat. Sepertinya saya adalah penumpang terakhir yang masuk pesawat.
Terima kasih kepada petugas Check In Desk Batik Air yang sangat koperatif.

Gatal gatal di Area Terlarang

April 4, 2016

Setiap pergi ke luar kota saya selalu memakai celana dalam sekali pakai (disposable brief). Saya tidak perlu mencucinya. Habis dipakai, terus dibuang, ambil lagi yang baru. Selama ini yang saya pakai adalah disposable brief merk T**. Satu box isinya 7 celana dalam sekali pakai. Dahulu harganya cuma belasan ribu rupiah, tetapi sekarang lebih dari Rp 25 ribu. Mungkin ini barang import, jadi terpengaruh penguatan US Dollar. Karena harganya makin mahal, saya tergoda untuk mencoba memakai merk lain lebih yang harganya lebih murah.

Yang saya rasakan pertama kali setelah memakai, disposable brief yang murah ini agak lebih licin dari yang merk T**. Kemudian, setelah beberapa kali memakainya, saya merasa bagian badan saya yang tertutup disposable brief ini agak lebih berkeringat dari pada waktu memakai yang merk T**. Tetapi karena keringat itu masih bisa saya toleransi, maka saya masih memakai disposable brief yang murah itu. Sampai suatu hari, saya merasa gatal di area terlarang saya. Makin lama, rasa gatal makin bertambah. Godaan untuk menggaruk area terlarang semakin sulit saya bendung. Suatu saat, rasa gatal itu mulai dibarengi rasa agak sedikit pedih. Sepertinya kulit di area terlarang saya terluka kena kuku karena sering digaruk.

Karena saya anggap hanya luka kecil di permukaan kulit, saya mengira luka itu akan segera sembuh sendiri. Tetapi ternyata saya keliru. Beberapa waktu kemudian, saya lihat beberapa bagian di area terlarang saya sering basah, bukan karena keringat, tetapi karena ada cairan yang merembes dari dalam kulit. Rasa gatal juga makin bertambah. Andai bukan di area terlarang, saya akan segera ke dokter. Lokasi penyakit di area terlarang ini membuat saya malu ke dokter. Apalagi, dokter langganan saya seorang perempuan.

Di internet, saya baca beberapa anjuran untuk mengobati penyakit ini. Ada yang tradisional / herbal, ada yang kimiawi, bahkan antibiotik. Akhirnya saya coba saran untuk memakai bedak gatal dan anjuran untuk memakai minyak kayu putih, karena dua barang itu tersedia di rumah saya. Bedak gatal (saya pakai He***yn) memang membantu meredakan gatal. Begitu juga minyak kayu putih. Namun pada waktu pertama memakai minyak kayu putih, area terlarang saya terasa makin gatal, bahkan makin pedih. Untunglah rasa gatal dan pedih itu hanya sebentar dan hanya pada saat pertama. Pada pemakaian minyak kayu putih berikutnya, tidak ada rasa makin gatal dan rasa pedih.

Bedak gatal dan minyak kayu putih berhasil mengurangi rasa gatal, tetapi belum dapat menghentikan cairan yang merembes dari dalam kulit. Kemudian dari internet saya baca ada saran untuk memakai obat jamur kulit dengan nama yang sulit saya ucapkan, apalagi untuk saya ingat : Miconazole. Saya sudah mencatat nama obat ini, dan akan membelinya di apotik. Tetapi sewaktu di sebuah supermarket, saya kebetulan membaca kata “Miconazole” di kotak obat jamur kulit merk D**t***n yang di iklannya sering ada kalimat “Daagg jamur..!”. Oh saya baru tahu bahwa jadi ternyata “Miconazole” adalah nama zat, bukan merk obat. Akhirnya saya membeli obat jamur kulit ini, dan tidak jadi ke apotik.

Pada pemakaian hari pertama, saya tidak merasa ada perubahan. Kulit di area terlarang itu masih basah. Untunglah setelah pemakaian hari kedua saya rasakan area itu menjadi kering. Kemudian permukaan kulit di area bekas jamur itu makin kering, terasa kasar, dan mulai mengelupas. Esok harinya, permukaan kulit yang mengering itu sudah hampir semuanya mengelupas dan rontok, berganti dengan kulit baru.

Pengalaman tidak enak dan memalukan ini mengajarkan saya bahwa :

1) Area terlarang harus dijaga kebersihannya. (Lha, iya lah..! )

2) Bersih saja tidak cukup. Area terlarang harus selalu kering.

3) Celana dalam sekali pakai (disposable brief) tidak sebaik celana dalam biasa dalam menyerap keringat. (Apalagi disposable brief yang murah). Kalau memakai disposable brief, sekarang saya pakai terbalik, bagian lipatan sambungannya menghadap ke luar sehingga tidak bergesekan dengan kulit. (Kulit yang basah mudah terluka).

4) Kuku jari tangan harus rajin dipotong,

5) Tahan dan lawan godaan untuk menggaruk area terlarang. Garukan sangat mungkin membuat luka. Jika terkena jamur/bakteri akan semakin gatal dan bahkan pedih.

6) Jika terlanjur terkena jamur/bakteri, segera obati dengan obat kulit yang mengandung Miconazole.

“Ngeyel” Demi Sepotong Cheeseburger

March 26, 2016

Saya baru saja masuk loby Mal Pondok Indah 1, Minggu, 13 Maret 2016. Ponsel saya bergetar, ada SMS masuk. Isinya : “Buy Combo Cheeseburger Small, Fries and Drink Hanya Rp 25.000,-Net di W****s terdekat.”. Selama persediaan masih ada.Tukarkan SMS ini! Promo lain *606#”  Saya sudah lama tidak makan burger karena saya bukan penggemar fast food. Tetapi karena waktu itu saya belum makan siang, maka saya segera naik ke lantai 2 Mal Pondok Indah 1 menuju restoran cepat saji W****s.

AddTextToPhoto(26-3-2016-2-53-32)_1

Sesampai di W****s, saya antri di depan kasir. Seorang ibu dengan anaknya yang antri di depan saya tampak menunjukkan SMS di ponselnya kepada kasir. Sepertinya ibu ini juga mendapat SMS promosi seperti saya. Tetapi kemudian saya dengar kasir W****s seperti mengatakan bahwa menu yang diinginkan Ibu tersebut tidak ada. Begitu saya melihat Ibu tersebut dengan anaknya pergi tanpa membawa makanan, saya mulai khawatir bahwa ada kemungkinan, saya juga tidak mendapatkan menu promosi yang disebutkan di SMS.

Kepada kasir W****s saya menunjukkan SMS di ponsel saya, dan mengatakan bahwa saya ingin menu tersebut. Kasir W****s mengatakan bahwa menu yang saya maksudkan habis. Saya heran dan mengatakan, SMS ini baru saya terima sepuluh menit yang lalu, dan saya langsung ke sini begitu membaca SMS promosi ini. Kasir W****s menjelaskan bahwa ada semacam kesalahan teknis. Saya tidak puas dengan penjelasannya. Saya katakan, kalau menu itu habis seharusnya SMS itu tidak dikirimkan. Saya katakan juga bahwa saya merasa dibohongi oleh promosi W****s. Kemudian seorang laki laki dengan seragam W****s menghampiri kami. Mungkin dia supervisor atau duty manager W****s. Dia mengatakan bahwa persediaan roti untuk burger sangat terbatas, tetapi dia akan membuatkan untuk saya. Setelah itu dia menyuruh kasir memproses pesanan saya.

Sewaktu menyantap Cheeseburger dan kentang, saya teringat dengan ibu dengan anaknya yang antri di depan saya, yang pergi dengan tangan hampa. Saya menduga ibu tersebut percaya begitu saja dengan alasan kasir W****s mengatakan menu promosi yang di SMS habis. Andaikan ibu tersebut mau sedikit “ngeyel” seperti saya, tentu dia dan anaknya mendapatkan menu yang mereka inginkan.

Jpeg

“ngeyel” itu melelahkan. Semoga kita tidak perlu selalu “ngeyel” untuk membela hak kita sebagai konsumen.

Ada Apa Dengan Kereta Cepat Jakarta Bandung?

February 6, 2016

Soal Kereta Cepat Jakarta Bandung, semula saya tidak ingin mengambil posisi Pro ataupun Kontra. Saya juga tidak tertarik memberikan comment di media sosial, apalagi menulis posting mengenai Kereta Cepat Jakarta Bandung. Bukankah ini proyek (katanya) Business to Business alias proyek swasta? Jadi biarkan saja. Kalau nanti setelah jadi ternyata bagus dan saya sanggup beli tiketnya, akan saya gunakan untuk pergi Jakarta Bandung pp.. Sebaiknya, kalau ternyata jelek atau tiketnya mahal, saya tidak akan pakai Kereta Cepat. Masih banyak pilihan transportasi lain untuk pergi Jakarta Bandung. Namanya juga punya swasta, kalau laku, yang dapat duit adalah yang punya Kereta Cepat. Kalau tidak laku, yang rugi yang punya Kereta Cepat juga. Jadi buat apa saya repot ikut-ikut Pro ataupun Kontra Kereta Cepat ?
Tetapi kemudian saya berubah pikiran. Hal ini karena saya heran dengan sikap pemerintah, dalam hal ini terutama Presiden Joko Widodo dan Menteri BUMN Ibu Rini Soemarno yang terlalu banyak bicara dan membela Kereta Cepat Jakarta Bandung. Ada sebuah judul berita mengatakan : “Kepada “Selebtweet”, Jokowi Bersikeras Lanjutkan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung“. Judul berita lain : “Jokowi Minta Menteri Rini Jelaskan Kontroversi Kereta Cepat“. Bahkan, ada judul berita “Hari ini, Presiden Groundbreaking Kereta Cepat Jakarta-Bandung“, padahal kabarnya Kereta Cepat Jakarta-Bandung belum mendapat izin Kementerian Perhubungan. Saya salut dengan keputusan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang tidak menghadiri acara groundbreaking proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, Kamis (21/1/2016) lalu.

Pak Joko Widodo itu Presiden Republik Indonesia. Beliau terlalu mulia kalau “pasang badan” untuk sebuah proyek punya swasta. Tidak pantas juga seorang Presiden meresmikan sebuah proyek yang izinnya belum dikeluarkan Kementerian yang berwenang. Ini sama saja beliau tidak percaya dan tidak menghargai wewenang Menteri Perhubungan.Ibu Rini Soemarno adalah Menteri BUMN, tidak pantas “jadi juru bicara” membela sebuah proyek punya swasta yang namanya Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Semakin kuat pembelaan Presiden, Menteri dan para pejabat negara terhadap Kereta Cepat Jakarta Bandung, semakin wajar dipertanyakan, apakah Kereta Cepat Jakarta Bandung benar-benar Business to Business? Makin kuat persepsi bahwa ada sesuatu yang tidak wajar di proyek ini. Makin kuat juga persepsi bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di proyek ini. Sedangkan “perception is more important than reality.”

Jadi, Pak Presiden, Ibu / Bapak Menteri, dan para pejabat negara, berhentilah bicara membela proyek ini. Biarkan Public Relation dan manajemen PT Kereta Cepat Indonesia Cina membela proyek mereka, kalau benar bahwa proyek ini murni Business to Business, kalau benar bahwa tidak ada sesuatu yang tidak wajar di proyek ini, kalau benar bahwa tidak ada sesuatu yang disembunyikan di proyek ini . Benarkah demikian?